Selasa, 20 Januari 2015

Keajaiban Bahasa Arab dalam Al-Qur'an

Nabi Muhammad S.A.W. bersabda bahwa setiap nabi Allah mempunyai mukjizat yang meyakinkan. Sebuah mukjizat yang membuat orang-orang yang melihatnya, walaupun mereka tidak mengakuinya dengan lidah mereka, tetapi hati mereka mengakui bahwa mukjizat itu datang dari Tuhan. Jadi mereka yakin bahwa orang itu seorang nabi Tuhan.

Misalnya, Musa diberi mukjizat dapat membelah Laut Merah. Dan ketika Fir’aun melihatnya, sebenarnya ia tahu bahwa Musa memang nabi Tuhan. Ketika hampir tenggelam, dia berkata "Sekarang saya beriman kepada-Mu Tuhan", namun taubatnya sudah tidak lagi diterima Allah. Misalnya Nabi Isa bisa menyembuhkan orang-orang yang sakit, ia menyembuhkan penderita kusta, menyembuhkan orang buta, bahkan orang yang sudah mati dapat dibangkitkan olehnya atas izin Tuhan.



Tapi Nabi Muhammad S.A.W. bersabda: "Aku telah diberikan Al’Quran dan aku berharap karenanya, ada lebih banyak orang yang masuk agamaku daripada nabi lainnya." Beberapa dari kalian mungkin berkata: "Bagaimana mungkin Al-Qur'an adalah mukjizat?" Namun, jika anda membaca tulisan sebelumnya, maka anda tahu bahwa Al’Quran tetap utuh dan asli selama ribuan tahun. Ini sesuatu yang luar biasa.

Tapi sesuatu yang luar biasa bukan berarti mukjizat. Jadi apa definisi mukjizat? Mukjizat adalah sesuatu yang tidak bisa dicapai oleh proses alam. Dan mukjizat sangat berbeda dengan sihir karena ada banyak hal yang tidak bisa dilakukan penyihir. Seperti misalnya ketika Musa menghadap Fir’aun, mukjizat yang diberikan Tuhan kepada Musa adalah tongkatnya. Ketika ia melemparkan tongkat itu dan tongkatnya berubah menjadi ular, maka Firaun berkata: "Para penyihirku juga bisa mengubah tongkatnya menjadi ular." Perlu diketahui bahwa para penyihir Fir’aun begitu ahli.

Sihir di Mesir pada zaman itu merupakan kesenian yang telah mencapai puncaknya. Banyak masyarakat Mesir pada zaman itu yang terlibat dengan praktek-praktek sihir. Bahkan ada sejenis mantra sihir yang dapat menghidupkan para Fir’aun terdahulu yang telah mati untuk beberapa saat.

Jadi ia memanggil penyihirnya dan mengadakan kompetisi antara para penyihir melawan Musa. Para penyihir melalui sihir mereka berhasil menipu orang-orang yang berpikir bahwa tongkat mereka adalah ular. Tapi kemudian ketika Musa melemparkan tongkatnya dan menghancurkan sihirnya, dan para penyihir sendiri menyadari bahwa mukjizat Nabi Musa tidak bisa ditandingi penyihir mana pun.

Para penyihir terkejut, mereka tahu bahwa mukjizat Musa jauh melampaui kemampuan mereka. Mereka tahu persis bahwa Nabi Musa mendapatkan mukjizat dari Tuhan. Bagi mereka itu adalah mukjizat yang meyakinkan.

Demikian pula di zaman Nabi Isa A.S. (Yesus), orang-orang Yahudi sangat terampil di bidang kedokteran. Tapi ketika Yesus datang dan dapat menyembuhkan orang buta, menyembuhkan penyakit kusta, bahkan orang yang sudah mati bisa dihidupkan kembali olehnya. Karena mukjizat Nabi Isa A.S. (Yesus) yang luar biasa ini, maka mereka tahu bahwa mukjizatnya berasal dari Allah.

Jadi bagaimana mungkin sebuah kitab, yakni Al’Quran dapat menyaingi mukjizat Nabi-nabi yang lain seperti misalnya Nabi Musa A.S. dan Nabi Isa A.S. (Yesus)? Dan tentu saja bahwa setiap mukjizat hanya cocok untuk masa tertentu dan untuk bangsa tertentu. Mukjizat Nabi Musa hanya cocok untuk bangsa Mesir pada zaman itu, karena pada zaman itu mereka begitu mengagumi seni sihir.

Demikian pula, di zaman Nabi Isa A.S. (Yesus), orang-orang yang ahli dalam bidang kedokteran sangat terkesan dengan mukjizat Nabi Isa, sehingga mereka tahu bahwa mukjizatnya berasal dari Allah. Jadi mukjizat-mukjizat para nabi hanya cocok untuk zaman tertentu dan untuk kaumnya saja.

Namun Al-Qur'an adalah mukjizat untuk sepanjang masa. Dan mukjizat Al’Quran, bukanlah hanya pada bagian tertentu saja, namun dari segala aspeknya. Dan salah satu mukjizat Al’Quran adalah ayat-ayatnya, yang dapat menceritakan tentang alam ini, yang biasanya hanya diketahui di kalangan para ilmuwan. Al’Quran berisi informasi yang tidak mungkin diketahui orang pada masa 1.400 tahun yang lalu.

Inilah mukjizat ilmiah dari Al’Quran, karena Al’Quran adalah pedoman bagi kita di pada zaman modern sekarang, seperti juga halnya Al-Qur'an merupakan pedoman pada zaman Nabi Muhammad S.A.W.

Tapi topik kita dalam tulisan ini bukanlah mukjizat ilmiah Al-Qur'an. Kita akan membahasnya dalam tulisan selanjutnya. Topik kita pada tulisan kali ini adalah tentang keajaiban bahasa Al-Qur'an. 

Kita tahu bahwa bahasa Arab adalah bahasa yang hidup. Orang-orang masih berbicara dalam bahasa Arab pada zaman sekarang. Orang-orang zaman sekarang bisa memahami isi Al-Qur'an meskipun kitab ini telah berumur 1.400 tahun. Di dunia ini, mungkin hanya Al-Qur’an-lah satu-satunya kitab yang memiliki kelebihan ini, sebuah kitab yang sangat kuno tapi orang-orang masih dapat mengerti & memahami bahasanya.

Selanjutnya, saya ingin menjelaskan keadaan jazirah Arab pada zaman Nabi Muhammad S.A.W. Jazirah Arab pada zaman Nabi Muhammad adalah sebuah negeri dengan peradaban yang terbelakang. Tidak ada teknologi yang maju disana, bahkan kehidupan di Jazirah Arab pada masa Nabi Muhammad bersifat barbar. Orang-orang Arab pada masa itu sangat kejam. Kebiasaan mereka adalah membunuhi bayi-bayi perempuan. Mereka juga tidak punya jalan-jalan yang bagus, tidak ada bangunan yang bagus, semuanya serba terbelakang.

Satu-satunya peradaban yang mereka miliki adalah kemampuan berbahasa. Mereka sangat ahli dalam berbahasa. Bahkan, mereka menjuluki orang-orang non-Arab dengan sebutan “ajmi” yang berarti orang bodoh dan bisu. Mereka juga sangat menyukai puisi. Bahkan mereka memiliki pasar untuk orang-orang yang suka berpuisi. Pasar itu bernama "wuhaz."

Perlu diketahui bahwa Nabi Muhammad S.A.W. buta huruf, dia bukan seorang yang berpendidikan, dia bukan seorang sastrawan, dan dia bukan seorang penyair. Namun dia dikenal sebagai orang yang jujur dan dapat dipercaya. Dan kemudian dia datang membawa ayat-ayat Al-Qur'an yang luar biasa kualitasnya. Ayat-ayat Al-Qur’an merupakan karya sastra yang sangat luar biasa dengan tata bahasa yang tidak dapat ditandingi orang-orang Arab manapun. Inilah bukti bahwa Al-Qur'an memang berasal dari Tuhan.

Dan Allah membuat tantangan. Tantangan yang pertama adalah karena orang-orang berkata: "Muhammad-lah yang mengarang-ngarang Al’Quran." Jadi ayat Al-Qur'an pun diturunkan Allah. Dalam surat ke Ath-Thuur dalam ayat 33-34

“Ataukah mereka mengatakan: "Dia (Muhammad) membuat-buatnya." Sebenarnya mereka tidak beriman. Maka hendaklah mereka mendatangkan kalimat yang semisal Al Qur'an itu jika mereka orang-orang yang benar.” (Q.S. Ath Thuur:33-34)

Dan para orang-orang kafir Mekkah tidak mampu membuat sesuatu yang menandingi Al-Qur’an, maka kemudian Allah berfirman dalam surat Hud ayat 13-14

Bahkan mereka mengatakan: "Muhammad telah membuat-buat Al Qur'an itu", Katakanlah: "(Kalau demikian), maka datangkanlah sepuluh surat-surat yang dibuat-buat yang menyamainya, dan panggillah orang-orang yang kamu sanggup (memanggilnya) selain Allah, jika kamu memang orang-orang yang benar. Jika mereka yang kamu seru itu tidak menerima seruanmu (ajakanmu) itu maka ketahuilah, sesungguhnya Al Qur'an itu diturunkan dengan ilmu Allah, dan bahwasanya tidak ada Tuhan selain Dia, maka maukah kamu berserah diri (kepada Allah)?” (Q.S. Hud:13-14)

Dan ini tidak pernah dilakukan para penyair sebelumnya. Jika mereka diberi tantangan, maka mereka harus merespon sendiri, mereka tidak pernah meminta bantuan orang lain. Bagaimana mungkin anda bisa membuktikan bahwa anda adalah seorang penyair besar, jika anda meminta bantuan orang lain? Meskipun begitu, Allah berfirman bahwa mereka cukup membuat sepuluh surat saja dan mereka dapat memanggil kawan-kawan mereka untuk membantu. Tapi mereka masih tidak sanggup memenuhi tantangan ini.

Jadi Allah memberikan mereka tantangan yang sangat mudah. Di surat Al-Baqarah dalam ayat 23-24:

"Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al Quran yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal Al Quran itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Tuhan, jika kamu orang-orang yang benar. Maka jika kamu tidak dapat membuat(nya) -- dan pasti kamu tidak akan dapat membuat(nya), peliharalah dirimu dari neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, yang disediakan bagi orang-orang kafir." 
(Q.S. Al-Baqarah:23-24)

Inilah tantangannya. Dan surat yang paling pendek adalah:

“innaa a'thaynaakal kawtsar. fashalli lirabbika wanhar. inna syaani-aka huwal-abtar." 
(Q.S. Al-Kautsar)

Hanya tiga ayat namun orang-orang Arab manapun tidak mampu membuat tiga ayat saja yang seperti Al’Quran. Dan Allah berfirman bahwa selamanya tidak akan ada yang mampu menandingi Al’Quran.

Di surat Al-Isra’ dalam ayat 88:

"Katakanlah: "Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa Al Qur'an ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengan dia, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain.” (Al-Isra’:88)

Bagaimana mungkin Nabi Muhammad yang buta huruf, tidak pandai berpuisi, namun dia dapat menghasilkan sebuah karya yang tak tertandingi, yang begitu indah, dan begitu fasih, bahkan para ahli dari segala macam puisi dalam bahasa Arab tidak dapat menandingi surat terpendek Al-Qur'an? Bahkan mereka lebih memilih untuk melawan Nabi Muhammad sehingga perdagangan dan reputasi mereka hancur.

Bagaimana mungkin mereka lebih memilih untuk menderita, daripada hanya memenuhi tantangan sederhana untuk membuat satu surat yang semisal Al’Quran? Itu karena mereka tidak akan pernah bisa melakukannya.

Dan At-Taburi, seseorang yang terkenal dalam menjelaskan keindahan Al’Quran, dia berkomentar:

" Al’Quran berekspresi dengan kefasihan terbesar, membuat maksud pembicara jelas & memfasilitasi pemahaman pendengar, yang merupakan tingkat tertinggi yang paling gemilang dari keindahan. Dan Al-Qur’an naik melampaui tingkat kefasihan dan kemampuan manusia sehingga tidak ada hamba Tuhan yang mampu menyamainya. Maka hal ini menjadi bukti & tanda bagi Nabi Muhammad sebagai utusan Yang Maha Kuasa.

Maka Al-Qur’an dapat disamakan dengan mukjizat membangkitkan orang mati, menyembuhkan penderita kusta, dan menyembuhkan orang buta. Semua ini membuktikan tanda-tanda kerasulan, karena semua ini melampaui tingkat pencapaian yang dapat dicapai oleh obat-obatan, umat manusia, & terapi penyembuhan.

Sangat jelas bahwa tidak ada wacana yang lebih fasih, tidak ada kebijaksanaan yang lebih mendalam, tidak ada pidato yang lebih luhur, tidak ada bentuk ekspresi yang lebih mulia daripada wacana yang jelas yang berasal dari ucapan seorang pria. Dia menantang orang-orang yang mengaku sebagai penguasa seni pidato, retorika, puisi, prosa, prosa berirama, dan sajak-sajak peramal. Muhammad S.A.W. menghancurkan khayalan mereka untuk menunjukkan betapa tidak memadainya logika mereka. Ia memisahkan diri dari agama mereka dan memanggil mereka semua untuk mengikutinya, untuk menerima seruannya, untuk bersaksi kepada kebenaran, dan menegaskan bahwa ia adalah utusan yang dikirim Tuhan kepada mereka. Dia membuat mereka tahu bahwa kebenaran yang dia katakan adalah bukti asli kenabiannya yang bayan.

Dia berseru dalam bahasa yang seperti bahasa mereka, dalam sebuah seruan yang maknanya mengkonfirmasi arti dari ucapan mereka. Kemudian ia mengatakan kepada mereka, bahwa mereka tidak akan mampu menciptakan sesuatu yang sebanding dengan bahkan satu surat saja dari kitab yang ia bawa, dan bahwa mereka tidak memiliki kekuatan untuk melakukan hal ini. Mereka semua tersadar mengakui ketidakmampuan, mereka mengakui kebenaran dari apa yang dibawa olehnya dan menjadi saksi atas ketidakberdayaan mereka sendiri.” (At-Taburi)

Dan Al Bayan merupakan julukan Al’Quran yang berarti wacana yang jelas. Al-Qur’an juga mempunyai julukan lainnya, yaitu Al Hikmah (kebijaksanaan) dan Al Furqan (pembeda antara yang benar & yang salah). Lihatlah kejadian yang luar biasa dan tantangan dari Al’Quran. Orang-orang tidak akan pernah mampu menandinginya & bahkan sampai zaman sekarang tidak ada yang mampu menandinginya.

Dan seseorang mungkin berkata: "Yah, mungkin memang ada seseorang yang dapat menghasilkan suatu karya yang sebanding dengan Al-Qur'an, tapi mungkin tidak pernah diketahui siapapun.” Tapi itu tidak mungkin, jika seseorang memang dapat menulis sesuatu yang sebanding dengan Al’Quran, maka pesan Nabi Muhammad akan hancur, dia akan dipermalukan, dan tak ada seorang pun yang akan mendengarkan dia. Seperti yang tadi saya sebutkan, mereka lebih suka berperang melawan Nabi Muhammad daripada menghasilkan satu surat saja yang menandingi Al’Quran.

Sekarang mari kita lihat apa kata para orientalis yang telah mengakui bahwa Al’Quran tidak mungkin ditiru. E.H. Parmer dalam bukunya The Quran, menulis:

"Penulis Arab terbaik manapun tidak pernah berhasil memproduksi sesuatu dalam tingkat yang sama dengan Al’Quran." (The Quran, E.H. Parmer)

H.A.R. Gibb dalam bukunya Islam: A Historical Survey, berkomentar:

Dalam kurun waktu 1.400 tahun, tidak ada orang yang pernah bermain dalam instrumen yang sangat dalam seperti yang Muhammad lakukan. Instrumen yang sangat kuat dan tegas, sangat berani dan mempunyai berbagai efek emosional. Sebagai sebuah monumen sastra, Al’Quran berdiri dengan sendirinya. Sebuah produksi yang unik dalam literatur Arab & tidak ada yang menjadi pelopor atau penerus Al-Qur’an." (Islam: A Historical Survey, H.A.R. Gibb)

Bahkan para non-Muslim telah mengakui kebenaran Al-Qur’an. Jadi bagaimana mungkin seorang pria yang buta huruf, menghasilkan keindahan yang luar biasa. Bahkan sampai zaman modern sekarang, tidak ada orang-orang Arab yang mampu menghasilkan sesuatu yang menandingi Al-Qur’an. Tidakkah anda berpikir bahwa memang Al’Quran adalah firman Allah, bahwa memang Muhammad S.A.W. adalah utusan Allah? Bukankah memang seharusnya kita semua mengucapkan:

Asyhadu Anla Illaha Illalah wa asyhadu anna Muhammadar Rasulullah
(Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad adalah utusan Allah)

sumber:  http://www.makintau.com/2015/01/keajaiban-bahasa-arab-dalam-al-quran.html

Rabu, 14 Januari 2015

Penjelasan Al Quran tentang awan cumulonimbus


Tragedi kecelakaan pesawat udara AirAsia QZ8501 dimungkinkan akibat awan cumulonimbus (awan CB). Ilmu pengetahuan modern menemukan awan ini pada abad ke-20. Namun penemuan ilmu pengetahuan modern ini ternyata terlambat jika dibandingkan dengan penjelas Al Quran.
Surat An Nur ayat 43 secara detail menjelaskan tentang fenomena awan CB tersebut. Berikut adalah kutipan dari ayat tersebut:
''Tidakkah engkau melihat bahwa Allah menjadikan awan bergerak perlahan lalu mengumpulkannya. Allah kemudian menjadikan awan-awan tersebut bertumpuk-tumpuk, lalu engkau lihat hujan keluar dari celah-celahnya. Dia juga menurunkan butiran-butiran es dari gumpalan-gumpalan awan yang besarnya bagaikan gunung-gunung. Maka, ditimpakan-Nya butiran-butiran es itu kepada siapa yang Dia kehendaki dan dihindarkan-Nya dari siapa yang Dia kehendaki. Kilauan kilatannya hampir-hampir menghilangkan penglihatan.''
Penjelasan Al Quran tersebut bersifat ilmiah (sains), sedangkan sang pembawa risalah dari Tuhan, Nabi Muhammad, adalah seorang nabi yang tidak bisa membaca dan menulis.
sumber: http://koranopini.com/berita-2/ragam/sainsdanteknologi/item/3109-penjelasan-al-quran-tentang-awan-cumulonimbus

Nebula 'Mawar Merah' di Dalam Al Quran

Bagi Anda yang menggemari dunia astronomi tentu tak asing dengan istilah Nebula. Seperti yang kita ketahui bahwa Nebula adalah awan antar bintang yang terdiri dari debu, gas dan plasma. Nebula juga merupakan tempat lahirnya bintang-bintang baru, tahukah Anda bahwa secara tersirat di dalam Alquran juga disebutkan tentang salah satu keindahan langit yang satu ini?

Di dalam sebuah surat tertulis firman Allah yang menggambarkan tentang keindahan Nebula ini. Namun di dalam Alquran, Nebula di gambarkan bagaikan mawar merah yang mengkilap seperti minyak. Jika Anda membaca surat Ar-Rahman, lihatlah pada ayat ke-37. Dalam surat tersebut berbunyi firman Allah:

"Maka apabila langit telah terbelah dan menjadi merah mawar seperti (kilapan) minyak." [QS. Ar-Rahman ayat 37]

Kini kebenaran ayat tersebut sudah di buktikan oleh NASA. Berjarak 3000 tahun cahaya dari Bumi, terdapat 'Nebula Mawar Merah' tersebut yang disebut NASA sebagai Nebula Cat's Eye.


Nebula Cat's Eye sebelumnya adalah sebuah bintang mati yang akhirnya meledak dan menyemburkan gas yang bersinar terang seperti mawar merah.

Gambar yang berhasil di abadikan oleh teleskop Hubble ini tampak seperti apa yang di gambarkan oleh Alquran surat Ar-Rahman tadi.

"Maka apabila langit telah terbelah dan menjadi merah mawar seperti (kilapan) minyak." [QS. Ar-Rahman ayat 37]

Meski di sebutkan seperti mawar merah di dalam Alquran, lantas kita jangan mengartikan bahwa warna Nebula itu selalu merah. Yang di maksud dalam surat Ar-Rahman ayat 37 tersebut tidaklah selalu merah mawar, tetapi menyerupai mawar merah yang seperti kilatan minyak.

Banyak sekali nebula-nebula seperti ini yang telah ditemukan dan dipelajari oleh para ahli perbintangan. Warna mereka pun sangat beragam dan semuanya itu menunjukkan kejadian masa lalu, karena apa yang tertangkap oleh teleskop adalah cahaya yang telah mengarungi angkasa ribuan tahun cahaya lamanya.

Banyak di antara nebula-nebula menunjukkan nasib berbagai bintang ketika menemui ajalnya. Namun tak sedikit pula nebula yang merupakan tempat lahirnya bintang-bintang baru.

Berikut ini adalah gambar-gambar Nebula lain dengan warna berbeda:




sumber: http://www.makintau.com/2015/01/nebula-mawar-merah-di-dalam-al-quran.html

Selasa, 13 Januari 2015

Ilmuwan: Alam Semesta Itu Berbentuk Sangkakala


Sangkakala adalah sebuah terompet raksasa yang berbentuk seperti tanduk dari cahaya dan memiliki ukuran yang sangat luar biasa besar. Dalam sebuah hadits, Rasulullah menjelaskan bahwa sangkakala itu dibuat oleh Allah setelah Allah selesai menciptakan alam semesta beserta isinya, Allah menciptakan sangkakala kemudian diberikan kepada malaikat Israfil.

Pada hari kiamat nanti, sangkakala akan di tiup oleh malaikat Israfil setelah Allah memerintahkannya. Setelah itu, hancurlah alam beserta isinya pada tiupan Nafkhatus sa'aq, musnahlah segala makhluk yang ada di langit dan di bumi kecuali yang dikehendaki oleh-Nya.

Sangkakala saat ini masih menjadi misteri di kalangan para ilmuwan, namun bagi kita yang mempercayai janji Allah, tentu kita tidak boleh ragu tentang apa yang diberitakan oleh Alquran kepada kita semua.
Para peneliti dan ilmuwan saat ini banyak sekali yang mempelajari tentang alam semesta, hingga akhirnya seorang ilmuwan mengklaim bahwa ia berhasil mengungkap misteri sangkakala.

Seorang profesor dari Universitas Ulm mengemukakan kesimpulan yang mencengangkan. Prof. Frank Steiner mengatakan bahwa alam semesta ini berbentuk seperti terompet. Di mana pada bagian ujung belakang terompet tersebut merupakan alam semesta yang tidak bisa diamati (unobservable), sedang bagian depan, di mana bumi dan seluruh sistem tata surya berada merupakan alam semesta yang masih mungkin untuk diamati (observable).

Penelitian tersebut dilakukan menggunakan peralatan canggih milik NASA yang bernama "Wilkinson Microwave Anisotropy Prob" atau WMAP.
Ada sebuah hadits panjang yang sangat menarik untuk kita cermati dalam kitab Tanbihul Ghofilin Jilid 1 hal. 60. Dalam kitab tersebut menjelaskan tentang kejadian kiamat yang pada bagian awalnya sangat menarik untuk dicermati.

Abu Hurairah ra berkata: Rasulullah saw bersabda: "Ketika Allah telah selesai menjadikan langit dan bumi, Allah menjadikan sangkakala (terompet) dan diserahkan kepada malaikat Israfil, kemudian ia letakkan dimulutnya sambil melihat ke Arsy menantikan bilakah ia diperintah".

Saya bertanya: "Ya Rasulullah apakah sangkakala itu?" Jawab Rasulullah: "Bagaikan tanduk dari cahaya." Saya bertanya: "Bagaimana besarnya?" Jawab Rasulullah: "Sangat besar bulatannya, demi Allah yang mengutusku sebagai Nabi, besar bulatannya itu seluas langit dan bumi, dan akan ditiup hingga tiga kali. Pertama: Nafkhatul faza' (untuk menakutkan). Kedua: Nafkhatus sa'aq (untuk mematikan). Ketiga: Nafkhatul ba'ats (untuk menghidupkan kembali atau membangkitkan)."

Dalam kalimat 'seluas langit dan bumi' dapat kita pahami sebagai ukurang yang sangat luas yang meliputi seluruh langit (lambang alam ghaib atau tak nyata) dan seluruh bumi (lambang alam nyata).

Dengan kata lain, terompet malaikat Isrofil itu membentang dari alam nyata hingga alam ghaib. Kedahsyatan tiupan sangkakala tersebut juga digambarkan dalam ayat berikut:

"Dan (ingatlah) hari (ketika) ditiup sangkakala, maka terkejutlah segala yang di langit dan segala yang di bumi, kecuali siapa yang dikehendaki Allah. Dan semua mereka datang menghadap-Nya dengan merendahkan diri." [QS. An-Naml ayat 87]

Sungguh Maha Besar Allah yang memiliki Kerajaan Langit dan Bumi.

sumber: www.makintau.com

Senin, 12 Januari 2015

Fenomena Sebelum Datangnya Kiamat

Misteri Dajjal akhirnya terkuak, makhluk berusia ribuan tahun ini sudah berada di tengah-tengah kita. Lalu kapankah nabi Isa as akan turun ke muka bumi ini? Hanya Allah yang tahu kapan nabi Isa akan turun ke muka bumi ini.
Dijelaskan bahwa sebelum terjadinya bencana yang sangat besar ini, akan muncul beberapa tanda-tanda kiamat. Salah satu tanda sebelum datangnya hari kiamat adalah turunnya nabi Isa ke bumi serta datangnya Dajjal serta Ya'jud dan Ma'jud yang akan memecah belah umat Islam.

Kemunculan Ya'jud dan Ma'jud tidak akan terhindarkan sebagai salah satu tanda akhir zaman, sebagaimana janji Allah dalam surat Al-Kahfi, Allah berfirman:

"Kami biarkan mereka (Ya'juj dan Ma'jud) di hari itu bercampur aduk antara satu dengan yang lain, kemudian ditiup lagi sangkakala, lalu Kami kumpulkan mereka itu semuanya," [QS. Al-Kahfi ayat 99]

Selain Ya'jud dan Ma'jud, akan muncul juga berbagai macam makhluk aneh berupa binatang melata yang keluar dari bumi. Seperti yang sudah disebutkan di dalam Al-Qur'an sebagai berikut:

"Dan apabila perkataan telah jatuh atas mereka, Kami keluarkan sejenis binatang melata dari bumi yang akan mengatakan kepada mereka, bahwa sesungguhnya manusia dahulu tidak yakin kepada ayat-ayat Kami." [QS. An-Naml ayat 82]

Makhluk melata tersebut bernama Dabbah. Dabbah akan muncul setelah seluruh umat manusia berada dalam kemungkaran, binatang melata tersebut kemudian akan berbicara kepada manusia untuk menyampaikan ayat-ayat Allah SWT.

Fenomena ini tidak akan bisa dipahami hanya dengan akal semata, tapi hanya dengan keimanan. Bisa jadi munculnya berbagai macam binatang unik yang tertuliskan lafadz Allah menjadi sebuah isyarat yang harus di renungkan.

Fenomena aneh lainnya pada saat menjelang hari kiamat, matahari akan terbit dari tempat terbenamnya (barat). Seperti sabda Rasulullah SAW, dari Abu Hurairah, Rasulullah 'alaihi wasallam bersabda: "Kiamat tidak akan datang sehingga matahari terbit dari barat. Jika manusia melihatnya, maka semuanya akan beriman." [HR. Bukhori & Muslim]

Hasil riset para ilmuwan modern membuktikan, sudah terjadi pergeseran pada kutub bumi yang berakibat pada suatu saat nanti matahari akan terbit dari barat. Setelah itu, bumi akan diliputi oleh dukhān atau kabut. Seperti dalam firman Allah dalam surat Ad-Dukhān:

"Maka tunggulah hari ketika langit membawa kabut yang nyata, yang meliputi manusia. Inilah azab yang pedih." [QS. Ad-Dukhān ayat 10-11]

Saat Dukhān memenuhi bumi, menurut Al-Qurthubi orang-orang mukmin akan di cabut nyawanya dan kemudian yang tersisa hanya orang-orang kafir. Sebelum datang peristiwa aneh ini, bumi akan diguncang dengan berbagai macam peristiwa alam seperti tornado, badai, gempa dan tsunami.

Tanda-tanda di atas sudah di isyaratkan oleh Rasulullah, "tahun-tahun penuh gempa menjadi tanda yang nyata, kiamat tidak lama lagi terjadi". Kemudian berdasarkan informasi dari National Earthquake Information Center (NEIC), gempa bumi makin sering terjadi di bumi ini dan dari tahun ke tahun terus mengalami peningkatan.

Tentu kita masih ingat pada gempa yang mengguncang Iran pada akhir 2012 lalu, yang menyebabkan ribuan orang luka dan ratusan lainnya meninggal dunia. Namun, bencana alam tidak akan sebanding dengan dahsyatnya kemunculan Dajjal.

Karena inilah sesungguhnya bencana terbesar yang akan di alami oleh umat manusia. Dajjal berhasil memalingkan manusia dari keimanan dan jalan yang lurus. Siapakah sosok Dajjal ini?
Sosok Dajjal banyak sekali di ulas dalam hadits Rasulullah, sementara di dalam Al-Quran kemunculan Dajjal di ulas secara tersirat. Seperti dalam firman Allah:

"...pada hari datangnya ayat dari Tuhanmu, tidaklah bermanfaat lagi iman seseorang kepada dirinya sendiri yang belum beriman sebelum itu, atau dia (belum) mengusahakan kebaikan dalam masa imannya,..." [QS. Al-An`am ayat 158]

Secara fisik, Dajjal merupakan seseorang dari golongan manusia yang matanya buta sebelah. Tetapi Dajjal memiliki ciri khusus yaitu terdapat tulisan di dahinya dalam bahasa Arab yang bertuliskan 'Kafir'.

Namun tulisan ini tidak bisa dibaca oleh semua umat manusia, hanya kaum yang beriman sajalah yang mampu membacanya. Ciri fisik Dajjal yang lainnya adalah bertubuh besar dan berambut keriting.

Menjelang hari kiamat, Dajjal akan menjadi ujian terberat umat manusia. Dajjal akan mengaku bahwa dirinya adalah Tuhan, nauzubillah min dzalik.

Semoga dengan mengetahui tanda-tanda akan kiamat, akan membuat iman kita kepada Allah semakin kuat. Amin.

sumber: http://www.makintau.com/2014/12/fenomena-sebelum-datangnya-kiamat.html

Syair Doa Abu Nawas – Al I’tiraf (Sebuah Pengakuan)

Abu Nawas adalah pujangga Arab dan merupakan salah satu penyair terbesar sastra Arab klasik. Penyair ulung sekaligus tokoh sufi ini mempunyai nama lengkap Abu Ali Al Hasan bin Hani Al Hakami dan hidup pada zaman Khalifah Harun Al-Rasyid di Baghdad (806-814 M). Oleh masyarakat luas Abu Nawas dikenal terutama karena kecerdasan dan kecerdikan dalam melontarkan kata-kata, sehingga banyak lahir anekdot jenaka yang sarat dengan hikmah.
Lukisan Abu NawasBerikut ini salah satu karya besarnya sebagai seorang penyair: Al-I’tiraaf – Sebuah pengakuan.

ِإِلهِي لََسْتُ لِلْفِرْدَوْسِ أَهْلاَ# وَلاَ أَقوى عَلَى النّارِ الجَحِيم
Ilaahii lastu lil firdausi ahlaan wa laa aqwaa ‘alaa naaril jahiimi
Wahai Tuhanku ! Aku bukanlah ahli surga, tapi aku tidak kuat dalam neraka Jahim

فهَبْ لِي تَوْبَةً وَاغْفِرْ ذنوبِي # فَإنّكَ غَافِرُ الذنْبِ العَظِيْم
Fa hablii taubatan waghfir zunuubii fa innaka ghaafirudzdzambil ‘azhiimi
Maka berilah aku taubat (ampunan) dan ampunilah dosaku, sesungguhnya engkau Maha Pengampun dosa yang besar

ذنوبِي مِثلُ أَعْدَادٍ الرّمَالِ # فَهَبْ لِي تَوْبَةً يَاذَاالجَلاَل
Dzunuubii mitslu a’daadir rimaali fa hablii taubatan yaa dzaaljalaali
Dosaku bagaikan bilangan pasir, maka berilah aku taubat wahai Tuhanku yang memiliki keagungan

وَعُمْرِي نَاقِصٌ فِي كُلِّ يَوْمٍ # وَذنْبِي زَائِدٌ كَيفَ احْتِمَالِي
Wa ‘umrii naaqishun fii kulli yaumi wa dzambii zaa-idun kaifah timaali
Umurku ini setiap hari berkurang, sedang dosaku selalu bertambah, bagaimana aku menanggungnya

َإلهي عَبْدُكَ العَاصِي أَتَاكَ # مُقِرًّا بِالذنوبِ وَقَدْ دَعَاك
Ilaahii ‘abdukal ‘aashii ataaka muqirran bidzdzunuubi wa qad da’aaka
Wahai, Tuhanku ! Hamba Mu yang berbuat dosa telah datang kepada Mu dengan mengakui segala dosa, dan telah memohon kepada Mu

َفَإِنْ تَغْفِرْ فَأنْتَ لِذاك أَهْلٌ # فَإنْ تَطْرُدْ فَمَنْ نَرْجُو سِوَاك
Fa in taghfir fa anta lidzaaka ahlun wa in tathrud faman narjuu siwaaka
Maka jika engkau mengampuni, maka Engkaulah yang berhak mengampuni. Jika Engkau menolak, kepada siapakah lagi aku mengharap selain kepada Engkau?
sumber: https://kumpulanbiografiulama.wordpress.com/2013/05/27/syair-doa-abu-nawas-al-itiraf-sebuah-pengakuan/

Pidato KH. Hasyim Asy’ari Saat Didirikannya Nahdlatul Ulama 1926

Pidato Rois Akbar Hadhratus Syekh KH. Hasyim Asy’ari pada saat didirikannya NU pada 16 Rajab tahun 1344 H/31 januari 1926 M di Surabaya
Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan al-Qur’an kepada hambaNya agar menjadi pemberi peringatan kepada sekalian umat dan menganugerahinya hikmah serta ilmu tentang sesuatu yang Ia kehendaki. Dan barangsiapa dianugerahi hikmah, maka benar-benar mendapat keberuntungan yang melimpah.
Allah Ta’ala berfirman: “Wahai Nabi, Aku utus Engkau sebagai saksi, pemberi kabar gembira dan penyeru kepada (agama) Allah serta sebagai pelita yang menyinari.” (QS. al- Ahzab ayat 45-46)
“Serulah ke jalan Tuhanmu dengan bijaksana, peringatan yang baik dan bantahlah mereka dengan yang lebih baik. Sesungguhnya Tuhanmulah yang mengetahui siapa yang sesat dari jalanNya dan Dia Maha Mengetahui orang-orang yang mendapat hidayah.” (QS. an-Naml ayat 125).
“Maka berilah kabar gembira hamba-hambaKu yang mendengarkan perkataan dan mengikuti yang paling baik darinya. Merekalah orang-orang yang diberi hidayah oleh Allah dan merekalah orang-orang yang mempunyai akal.” (QS. az-Zumar ayat 17-18).
“Dan katakanlah: Segala puji bagi Allah yang tak beranakkan seorang anakpun, tak mempunyai sekutu penolong karena ketidakmampuan. Dan agungkanlah seagung-agungnya.” (QS. al-Kahfi ayat 111).
“Dan sesungguhnya inilah jalanKu (agamaKu) yang lurus, maka ikutilah dia dan jangan ikuti berbagai jalan (yang lain) nanti akan mencerai-beraikan kamu dari jalanNya. Demikianlah Allah memerintahkan agar kamu semua bertaqwa.” (QS. al-An’am ayat 153).
“Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul serta Ulil Amri diantara kamu. Kemudian jika kamu berselisih dalam suatu perkara, maka kembalikanlah perkara itu kepada Allah dan Rasul kalau kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari Kemudian. Yang demikian itu lebih bagus dan lebih baik kesudahannya.” (QS. an-Nisa’ ayat 59).
“Maka orang-orang yang beriman kepadaNya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. al-A’raf ayat 157).
“Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar) berdo’a: Ya Tuhan ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah mendahului kami beriman dan janganlah Engkau jadikan dalam hati kami kedengkian terhadap orang-orang yang beriman. Ya Tuhan kami sesungguhnya Engkau Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.” (QS. al-Hasyr ayat 10).
“Wahai manusia, sesungguhnya Aku telah menciptakan kamu dari seorang lelaki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa kepada Allah diantara kamu semua.” (QS. al-Hujurat ayat 13).
“Sesungguhnya yang takut kepada Allah diantara hamba-hambaNya hanyalah Ulama.” (QS. al-Fathir ayat 58)
“Diantara orang-orang yang mukmin ada orang-orang yang menepati apa yang mereka janjikan kepada Allah, lalu diantara mereka ada yang gugur dan diantara mereka ada yang menunggu, mereka sama sekali tidak merubah (janjinya).” (QS. al-Ahzab ayat 23).
“Wahai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kamu kepada Allah dan beradalah kamu bersama orang-orang yang jujur.” (QS. at-Taubah ayat 119).
“Dan ikutilah jalan orang yang kembali kepadaKu.” (QS. Luqman ayat 15).
“Maka bertanyalah kamu kepada orang-orang yang berilmu jika kamu tidak mengetahui.” (QS. al-Anbiya’ ayat 7).
“Adapun orang-orang yang dalam hati mereka terdapat kecenderungan menyeleweng, maka mereka mengikuti ayat-ayat yang mutasyabihat dari padanya untuk menimbulkan fitnah dan mencari-cari takwilnya, padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya kecuali Allah. Sedangkan orang-orang yang mendalam ilmunya mereka mengatakan: “Kami beriman kepada ayat-ayat mutasyabihat itu, semuanya dari sisi Tuhan kami.” Dan orang-orang yang berakal saja yang dapat mengambil pelajaran (dari padanya).” (QS. Ali Imron ayat 7).
“Barangsiapa menentang Rasul setelah petunjuk jelas padanya dan dia mengikuti selain ajaran-ajaran orang mukmin, maka Aku biarkan ia menguasai kesesatan yang telah dikuasainya (terus bergelimang dalam kesesatan) dan Aku masukkan ke neraka jahanam. Dan neraka jahanan itu adalah seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. an-Nisa’ ayat 115).
“Takutlah kamu semua akan fitnah yang benar-benar tidak hanya khusus menimpa orang-orang dzalim diantara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah sangat dahsyat siksaNya.” (QS. al-Anfal ayat 25).
“Janganlah kamu bersandar kepada orang-orang dzalim, maka kamu akan disentuh api neraka.” (QS. al-Hud ayat 113).
“Wahai orang-orang yang beriman jagalah diri-diri kamu dan keluarga kamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, di atasnya berdiri Malaikat-malaikat yang kasar, keras, tidak pernah mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkanNya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan kepada mereka.” (QS. at-Tahrim ayat 6).
“Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang mengatakan: “Kami mendengar”, padahal mereka tidak mendengar.” (QS. al-Anfal ayat 21).
“Sesungguhnya seburuk-buruk makhluk melata, menurut Allah, ialah mereka yang tuli (tidak mau mendengar kebenaran) dan bisu (tidak mau bertanya dan menuturkan kebenaran) yang tidak berpikir.” (QS. al-Anfal ayat 22).
“Dan hendaklah ada di antara kamu, segolongan umat yang menyeru kepada kebaikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah kemungkaran. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali Imran ayat 104).
“Dan saling tolong menolong kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan taqwa; janganlah tolong menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Dan bertaqwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah sangat dahsyat siksaNya.” (QS. al-Maidah ayat 2).
“Wahai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu serta berjaga-jagalah (menghadapi serangan musuh di perbatasan). Dan bertaqwalah kepada Allah agar kamu mendapat keberuntungan.” (QS. Ali Imran ayat 200).
“Dan berpegangteguhlah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah dan jangan kamu bercerai-berai, dan ingatlah nikmat Allah yang dilimpahkan kepadamu ketika kamu dahulu bermusuhan lalu Allah merukunkan antara hati-hati kamu, kemudian kamu pun (karena nikmatnya) menjadi orang-orang yang bersaudara.” (QS. Ali Imran ayat 103).
“Dan janganlah kamu saling bertengkar, nanti kamu jadi gentar dan hilang kekuatanmu dan tabahlah kamu. Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang tabah.” (QS. al-Anfal ayat 46).
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu bersaudara, maka damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertaqwalah kepada Allah, supaya kamu dirahmati.” (QS. al-Hujurat ayat 10).
“Kalau mereka melakukan apa yang dinasehatkan kepada mereka, niscaya akan lebih baik bagi mereka dan memperkokoh (iman mereka). Dan kalau memang demikian, niscaya Aku anugerahkan kepada mereka pahala yang agung dan Aku tunjukkan mereka jalan yang lurus.” (QS. an-Nisa’ ayat 66-68).
“Dan orang-orang yang berjihad dalam (mencari) keridhaanku, pasti Aku tunjukkan mereka jalanKu, sesungguhnya Allah benar-benar bersama orang-orang yang berbuat baik.” (QS. al-Ankabut ayat 69).
“Sesungguhnya Allah dan Malaikat-malaikat bersalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman bersalawatlah kamu untuknya dan bersalamlah dengan penuh penghormatan.” (QS. al-Ahzab ayat 56). “… Dan orang-orang yang mengikuti jejak mereka (Muhajirin dan Anshar) dengan baik, Allah ridla kepada mereka.”
Amma Ba’du. Sesungguhnya pertemuan dan saling mengenal persatuan dan kekompakan adalah merupakan hal yang tidak seorangpun tidak mengetahui manfaatnya. Betapa tidak. Rasulullah Saw. benar-benar telah bersabda:
“Yad Allah bersama jama’ah. Apabila diantara jama’ah itu ada yang memencil sendiri, maka syaitan pun akan menerkamnya seperti halnya serigala menerkam kambing. Allah ridha pada kamu tiga hal dan tidak suka tiga hal. Allah ridha kamu menyembahNya dan tidak menyekutukanNya dengan sesuatu apapun; Kamu semua berpegang teguh kepada tali (agama) Allah seluruhnya dan jangan bercerai-berai; dan Kamu saling memperbaiki dengan orang yang dijadikan Allah sebagai pemimpin kamu. Dan Allah membenci bagi kamu, saling membantah, banyak tanya dan menyia-nyiakan harta benda. Jangan kamu saling dengki, saling menjerumuskan, saling bermusuhan, saling membenci dan jangan sebagian kamu menjual atas kerugian jualan sebagian yang lain dan jadilah kamu, hamba-hamba Allah, bersaudara.” (H.R. Muslim).
Dikatakan dalam sebuah syair: “Suatu ummat bagai jasad yang satu. Orang-orangnya ibarat anggota-anggota tubuhnya. Setiap anggota punya tugas dan perannya.”
Seperti dimaklumi, manusia mesti bermasyarakat, bercampur dengan yang lain; sebab tidak mungkin seorangpun sendirian dalam memenuhi segala kebutuhan-kebutuhannya. Dia mau tidak mau dipaksa bermasyarakat, berkumpul yang membawa kebaikan bagi umatnya dan menolak keburukan dan ancaman bahaya daripadanya. Karena itu, persatuan, ikatan batin satu dengan yang lain, saling bantu menangani satu perkara dan seiya-sekata adalah merupakan penyebab kebahagiaan yang terpenting dan faktor paling kuat bagi menciptakan persaudaraan dan kasih sayang.
Berapa banyak negara-negara yang menjadi makmur, hamba-hamba menjadi pemimpin yang berkuasa, pembangunan jalan-jalan menjadi lancar, perhubungan menjadi ramai dan masih banyak manfaat-manfaat lain dari hasil persatuan merupakan keutamaan yang paling besar dan merupakan sebab dan sarana paling ampuh.
Rasulullah Saw. telah mempersaudarakan sahabat-sahabatnya sehingga mereka (saling kasih, saling menyayangi dan saling menjaga hubungan), tidak ubahnya satu jasad; apabila salah satu anggota tubuh mengeluh sakit, seluruh jasad ikut merasa demam dan tidak dapat tidur.
Itulah sebabnya mereka menang atas musuh mereka, kendati jumlah mereka sedikit. Mereka tundukkan raja-raja. Mereka taklukkan negeri-negeri. Mereka buka kota-kota. Mereka bentangkan payung-payung kemakmuran. Mereka bangun kerajaan-kerajaan. Dan mereka lancarkan jalan-jalan.
Firman Allah dalam al-Qur’an: “Dan Aku telah memberikan kepadanya jalan (untuk mencapai) segala sesuatu.” (QS. al-Kahfi ayat 84).
Benarlah kata penyair yang mengatakan dengan bagusnya: “Berhimpunlah anak-anakku bila kegentingan datang melanda. Jangan bercerai-berai sendiri-sendiri. Cawan-cawan enggan pecah bila bersama. Ketika bercerai satu-satu pecah berderai.”
Sayyidina Ali Kw. berkata: “Dengan perpecahan tak ada satu kebaikan dikaruniakan Allah kepada seseorang, baik dari orang-orang terdahulu maupun orang-orang yang belakangan.”
Sebab, satu kaum apabila hati-hati mereka berselisih dan hawa nafsu mereka mempermainkan mereka, maka mereka tidak akan melihat sesuatu tempat pun bagi kemaslahatan bersama. Mereka bukanlah bangsa bersatu, tapi hanya individu-individu yang berkumpul dalam arti jasmani belaka. Hati dan keinginan-keinginan bereka saling berselisih. Engkau mengira mereka menjadi satu, padahal hati mereka berbeda-beda.
Mereka telah menjadi seperti kata pepatah: “Kambing-kambing yang berpencaran di padang terbuka. Berbagai binatang buas telah mengepungnya. Kalau sementara mereka tetap selamat, mungkin karena binatang buas belum sampai kepada mereka (dan pasti suatu saat akan sampai kepada mereka) atau karena saling berebut, telah menyebabkan binatang-binatang buas itu saling berkelahi sendiri antara mereka. Lalau sebagian mengalahkan yang lain. Dan yang menangpun akan menjadi perampas dan yang kalah menjadi pencuri. Si kambingpun jatuh antara si perampas dan si pencuri.”
Perpecahan adalah penyebab kelemahan, kekalahan dan kegagalan di sepanjang zaman. Bahkan pangkal kehancuran dan kemacetan, sumber keruntuhan dan kebinasaan, dan penyebab kehinaan dan kenistaan. Betapa banyak keluarga-keluarga besar semula hidup dalam keadaan makmur, rumah-rumah penuh dengan penghuni, sampai suatu ketika kalajengking perpecahan merayapi mereka, bisanya menjalar meracuni hati mereka dan syaitanpun melakukan perannya, mereka kucar-kacir tak keruan. Dan rumah-rumah mereka runtuh berantakan.
Sahabat Ali Kw. berkata dengan fasihnya: “Kebenaran dapat menjadi lemah karena perselisihan dan perpecahan dan kebatilan sebaliknya dapat menjadi kuat dengan persatuan dan kekompakan.”
Singkat kata siapa yang melihat pada cermin sejarah, membuka lembaran yang tidak sedikit dari ikhwal bangsa-bangsa dan pasang surut zaman serta apa saja yang terjadi pada mereka hingga pada saat-saat kepunahannya, akan mengetahui bahwa kekayaan yang pernah menggelimang mereka, kebangggan yang pernah mereka sandang, dan kemuliaan yang pernah menjadi perhiasan mereka tidak lain adalah karena berkat apa yang secara kukuh mereka pegang, yaitu mereka bersatu dalam cita-cita, seia sekata, searah setujuan dan pikiran-pikiran mereka seiring. Maka inilah factor paling kuat yang mengangkat martabat dan kedaulatan mereka, dan benteng paling kokoh bagi menjaga kekuatan dan keselamatan ajaran mereka.
Musuh-musuh mereka tak dapat berbuat apa-apa terhadap mereka, malahan menundukkan kepala, menghormati mereka karena wibawa mereka. Dan merekapun mencapai tujuan-tujuan mereka dengan gemilang. Itulah bangsa yang mentarinya dijadikan Allah tak pernah terbenam senantiasa memancar gemilang. Dan musuh-musuh mereka tak dapat mencapai sinarnya.
Wahai ulama dan para pemimpin yang bertaqwa di kalangan Ahlussunnah wal Jama’ah dan keluarga madzhab imam empat; Anda sekalian telah menimba ilmu-ilmu dari orang-orang sebelum Anda, orang-orang sebelum Anda menimba dari orang-orang sebelum mereka, dengan jalan sanad yang bersambung sampai kepada Anda sekalian, dan Anda sekalian selalu meneliti dari siapa Anda menimba ilmu agama Anda itu.
Maka dengan demikian, Anda sekalian adalah penjaga-penjaga ilmu dan pintu gerbang ilmu-ilmu itu. Rumah-rumah tidak dimasuki kecuali dari pintu-pintu. Siapa yang memasukinya tidak melalui pintunya, disebut pencuri.
Sementara itu segolongan orang yang terjun ke dalam lautan fitnah; memilih bid’ah dan bukan sunnah-sunnah Rasul dan kebanyakan orang mukmin yang benar hanya terpaku. Maka para ahli bid’ah itu seenaknya memutarbalikkan kebenaran, memungkarkan makruf dan memakrufkan kemungkaran. Mereka mengajak kepada kitab Allah, padahal sedikitpun mereka tidak bertolak dari sana. Mereka tidak berhenti sampai di situ, malahan mereka mendirikan perkumpulan pada perilaku mereka tersebut. Maka kesesatan semakin jauh. Orang-orang yang malang pada memasuki perkumpulan itu.
Mereka tidak mendengar sabda Rasulullah Saw.: “Maka lihat dan telitilah dari siapa kamu menerima ajaran agamamu itu. Sesungguhnya menjelang hari kiamat, muncul banyak pendusta. Janganlah kamu menangisi agama ini bila ia berada dalam kekuasaan ahlinya. Tangisilah agama ini bila ia berada di dalam kekuasaan bukan ahlinya.”
Tepat sekali sahabat Umar bin Khattab Ra. ketika berkata: “Agama Islam hancur oleh perbuatan orang munafiq dengan al-Qur’an.”
Anda sekalian adalah orang-orang yang lurus yang dapat menghilangkan kepalsuan ahli kebathilan, penafsiran orang yang bodoh dan penyelewengan orang-orang yang over acting; dengan hujjah Allah, Tuhan semesta alam, yang diwujudkan melalui lesan orang yang ia kehendaki.
Dan Anda sekalian kelompok yang disebut dalam sabda Rasulullah Saw.: “Anda sekelompok dari umatku yang tak pernah bergeser selalu berdiri tegak diatas kebenaran, tak dapat dicederai oleh orang yang melawan mereka, hingga datang putusan Allah.”
Marilah Anda semua dan segenap pengikut Anda dari golongan para fakir miskin, para hartawan, rakyat jelata dan orang-orang kuat, berbondong-bondong masuk Jam’iyyah yang diberi nama “Jam’iyyah Nahdlatul Ulama” ini. Masuklah dengan penuh kecintaan, kasih sayang, rukun, bersatu dan dengan ikatan jiwa raga.
Ini adalah jam’iyyah yang lurus, bersifat memperbaiki dan menyantuni. Ia manis terasa di mulut orang-orang yang baik dan getir di tenggorokan orang-orang yang tidak baik. Dalam hal ini hendaklah Anda sekalian saling mengingatkan dengan kerjasama yang baik, dengan petunjuk yang memuaskan dan ajakan memikat serta hujjah yang tak terbantah. Sampaikan secara terang-terangan apa yang diperintahkan Allah kepadamu, agar bid’ah-bid’ah terberantas dari semua orang.
Rasulullah Saw. bersabda: “Apabila fitnah-fitnah dan bid’ah-bid’ah muncul dan sahabat-sahabatku dicaci maki, maka hendaklah orang-orang alim menampilkan ilmunya. Barangsiapa tidak berbuat begitu, maka dia akan terkena laknat Allah, laknat Malaikat dan semua orang.”
Allah Swt. berfirman: “Dan saling tolong menolonglah kamu dalam mengerjakan kebaikan dan taqwa kepada Allah.”
Sayyidina Ali Kw. berkata: “Tak seorang pun (betapapun lama ijtihadnya dalam amal) mencapai hakikat taat kepada Allah yang semestinya. Namun termasuk hak-hak Allah yang wajib atas hamba-hamba Nya adalah nasehat dengan sekuat tenaga dan saling bantu dalam menegakkan kebenaran di antara mereka.”
Tak seorangpun (betapapun tinggi kedudukannya dalam kebenaran, dan betapapun luhur derajat keutamaannya dalam agama) dapat melampaui kondisi membutuhkan pertolongan untuk memikul hak Allah yang dibebankan kepadanya. Dan tak seorangpun (betapa kerdil jiwanya dan pandangan-pandangan mata merendahkannya) melampaui kondisi dibutuhkan bantuannya dan dibantu untuk itu. Tak seorangpun betapa tinggi kedudukannya dan hebat dalam bidang agama dan kebenaran yang dapat lepas tidak membutuhkan bantuan dalam melaksanakan kewajibannya terhadap Allah, dan tak seorangpun betapa rendahnya, tidak dibutuhkan bantuannya atau diberi bantuan dalam melaksanakan kewajibannya itu.
Tolong menolong atau saling bantu pangkal keterlibatan umat-umat. Sebab kalau tidak ada tolong menolong, niscaya semangat dan kemauan akan lumpuh karena merasa tidak mampu mengejar cita-cita. Barang siapa mau tolong menolong dalam persoalan dunia dan akhiratnya, maka akan sempurnalah kebahagiaannya, nyaman dan sentosa hidupnya.
Sayyidina Ahmad bin Abdillah as-Saqqaf berkata: “Jam’iyyah ini adalah perhimpunan yang telah menampakkan tanda-tanda menggembirakan, daerah-daerah menyatu, bangunan-bangunannya telah berdiri tegak, lalu kemana kamu akan pergi? Ke mana?”
Wahai orang-orang yang berpaling, jadilah kamu orang-orang pertama, kalau tidak orang-orang yang menyusul (masuk jam’iyyah ini). Jangan sampai ketinggalan, nanti suara penggoncang akan menyerumu dengan goncangan-goncangan.
“Mereka (orang-orang munafiq itu) puas bahwa mereka ada bersama orang-orang yang ketinggalan (tidak masuk ikut serta memperjuangkan agama Allah). Hati mereka telah dikunci mati, maka mereka pun tidak bias mengerti.” (QS. at-Taubah ayat 17).
“Tiada yang merasa aman dari adzab Allah kecuali orang-orang yang merugi”. (QS. al-A’raf ayat 99).
“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau condongkan hati kami kepada kesesatan setelah Engkau memberi hidayah kepada kami, anugerahkanlah kepada kami rahmat dari sisiMu. Sesungguhnya Engkau Maha Pemberi anugerah.” (QS. Ali Imran ayat 8).
“Ya Tuhan kami, ampunilah bagi kami dosa-dosa kami, hapuskanlah dari diri-diri kami kesalahan-kesalahan kami dan wafatkan kami beserta orang-orang yang berbakti.” (QS. Ali Imran ayat 193).
“Ya Tuhan kami, karuniakanlah kami apa yang Engkau janjikan kepada kami melalui utusan-utusanMu dan jangan hinakan kami pada hari kiamat. Sesungguhnya Engkau tidak pernah menyalahi janji.” (QS. Ali Imran ayat 194).

sumber: https://kumpulanbiografiulama.wordpress.com/2013/03/31/pidato-kh-hasyim-asyari-saat-didirikannya-nahdlatul-ulama-1926/